Rss Feed
  1. Mari Menangkan

    Jumat, 26 Juni 2015

    Setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Setiap orang memiliki tujuan dan pencapaian yang ingin di raih. Setiap orang sama-sama memiliki peluang untuk menjadi pemenang, menjadi rata-rata atau bagian yang kalah bahkan sebelum memulai langkah.
    Menjadi pemenang bukan berarti memenangkan sebuah pencapaian besar dalam hidup, menurutku itu masih rata-rata. Pemenang sejati ialah orang yang mampu memenangkan diri-nya sendiri. Terhadap apapun itu. Terlebih berhasil menang terhadap ego-nya sendiri.
    Ego masing-masing orang tentu berbeda. Akan tetapi, bagaimana cara kita menyetir dan mengarahkan ego itu jelas menentukan bagaimana cara kita menyikapi hidup. Hidup tidak akan berhenti sampai kita dihadapkan oleh batas bernama kematian, lalu akan kembali berlangsung di salah satu antara dua tempat yang abadi. Surga atau neraka.
    Seorang pemenang akan berusaha menekan ego-nya kuat-kuat, terlebih untuk pencapaian kehidupan setelah kematian. Memang tidak mudah, karena mengalahkan ego sama saja artinya kita sedang mengadakan pertempuran dahsyat di dalam diri kita sendiri.
    Semoga Ramadhan ini kita bisa memenangkan pertarungan antara diri kita dan ego. Semoga saja.
    Selamat bertempur dan memenangkan pertempuran. 
    smile emotikon
    - 9 Ramadhan 1436 H -

  2. Bukan Mengurangi, Menambah

    Sabtu, 13 Juni 2015



    Apa yang ada di fikiranmu pertama kali saat kau memberikan sesuatu yang berharga darimu?

    Waktumu misalnya. Atau uangmu. Perasaanmu mungkin.

    Barangkali ada di antara kita merasa ada yang berkurang saat kita memberikan sesuatu dari milik kita. Entah merasa eman. Sayang jika harus diberikan. Atau bahkan kita berdalih bahwa ada sesuatu yang lebih urgent untuk kita beli ketimbang memberikan sebagian kecilnya pada seseorang yang memang berhak. Ya, hanya sebagian kecil. Tidak banyak. Paling-paling jika kita membelanjakan uang itu untuk beli makanan, ya akan langsung habis. Terbuang begitu saja.

    Akan beda halnya jika kita memberi. Memberi itu menambah, bukannya mengurangi. Memberi itu menambah keberkahan dalam harta kita, dalam hidup kita. Memberi menambah kebersyukuran. memberi menambah keakraban dan persaudaraan. Memberi juga melapangkan. Memberi itu justru melipat gandakan.

    Melipat gandakan?

    Ya. Kau pernah tahu potongan ayat yang bunyinya barang siapa yang menginfakkan sebagian hartanya di jalan Allah maka permisalannya seperti sebatang pohon. Yang darinya tumbuh tujuh cabang dan dari tiap-tiap cabangnya tumbuh seratus bijih-bijihan. Tidak main-main, dilipatgandakan tujuh ratus kali. Bayangkan saja. Misalkan kita infak seribu rupiah saja ke masjid, dikalikan tujuh ratus. Sama saja kita sedang berinfak tujuh ratus ribu rupiah. Sebuah nominal yang besar, bukan?

    Nah tinggal kalikan saja, kalau kita infak seratus ribu saja. Berapa hasilnya?

    Baiklah, kita sedang tidak membicarakan mengenai hitung-hitungan dengan apa yang kita berikan. Karena itu akan dikalkulasikan langsung oleh Tuhan. Tugas kita sebenaarnya sederhana. Memberi dan mengikhlaskan apa yang telah kita beri. Yakinlah bahwa meskipun ianya tidak bertambah secara nominal, tapi kita mendapatkan yang lebih dari sekedar uang. Keberkahan.

    Selamat memberi. :)



  3. Seorang teman baik saya pernah menuturkan sebuah nasihat berharga. Tentang analogi sederhana tapi sangat sarat makna mengenai kehidupan.

    Dia menuturkan, bahwa target-target pencapaian dalam hdiup ini ibarat gas dalam kendaraan. Banyak sekali orang yang ingin segera sampai pada tujuan yang dicita-citakan. Akhirnya mereka berlomba untuk menginjak gas kencang-kencang. Dengan asumsi bahwa sesiapa yang paling kencang saat tancap gas maka dia akan lebih dulu sampai pada tujuan yang diinginkan. Ya, asumsinya begitu.

    Tapi banyak juga yang tidak sadar, bahwa jalanan itu tidak selalu mulus. Ada jalanan rusak. Dari kerusakan kecil hingga parah. Mungkin ada paku. Pecahan kaca. Sampai orang yang menyebrang jalan secara tiba-tiba. Jika dia tidak bisa bermain kopling, tentu akan ditabrak saja kesemua itu. Hasilnya? ringseklah. Apakah dia akan sampai pada tujuan yang diinginkannya? Tidak.

    Teman baik saya melanjutkan. Gas itu ibarat keinginan duniawi kita. Sedangkan kopling adalah penyeimbang, yang bukan lain adalah ibadah, doa dan hubungan kita dengan Allah. Semakin pintar kita memainkan kopling, jaminan keselamatan akan semakin tinggi. Pencapaian akan tujuan yang diinginkan semakin mudah untuk direalisasikan.

    Ketika tujuan itu berupa puncak sebuah gunung, maka kita tidak bisa asal menancap gas. Motor yang melewati jalan menanjak tidak akan mampu jika menggunakan gigi tinggi. Justru gigi rendah dan usaha yang terus menerus akan mengikis segala ketidak mungkinan itu. 

    Ingat. Gigi tinggi itu ibarat kesombonganmu, sedangkan yang rendah adalah kerendahan hati. Puncak kesuksesan itu tidak akan pernah terbayar oleh secuil perasaan bernama kesombongan.

    Saya mengangguk-angguk. Sontak saja saya ingin bercermin. Ada di gigi berapakah saya?



  4. Ada seseorang yang memilih diam. Karena menurutnya diam itu akan lebih aman daripada mengungkapkan. Memendam sendiri dalam diam bagaimana sebenarnya gemuruh perasaannya. Ada kekhawatiran yang dia takutkan. 

    Dan itulah aku.

    Akan berbeda jadinya jika aku mengungkapkannya kepadamu. Aku lebih suka seperti ini. Memandangimu dari balik rumpunan bougenville yang tumbuh di taman kampus kita. Memandangimu bercengkrama dengan teman-teman akrabmu. Berdiskusi dalam satu forum. Berdebat dalam tema-tema yang mengasyikkan. Ataupun berkumpul bersama teman-teman lain sejurusan untuk membahas event tertentu.

    Akan beda jadinya jika aku mengungkapkannya kepadamu. Mungkin saja kamu yang notabene nya memang irit berbicara terhadap laki-laki, akan semakin menghindariku. Setidaknya bahkan menolehpun nanti kamu akan enggan. Aku tidak bisa lagi memandangimu dari balik rumpun bougenville seperti yang biasa aku lakukan untuk bercanda bersama teman-temanku. Padahal alasan sebenarnya aku berdiam diri disana hanya ingin bisa mencuri pandang ke arahmu.

    Mungkin aku terkesan pengecut. Karena laki-laki sejati tidak seharusnya menyimpan perasaan seperti ini. Tapi menurutku perkara mengungkapkan perasaan itu bukan hal sesepele itu. Aku adalah tipe laki-laki yang sekali berucap, akan bertanggung jawab penuh terhadap perkataanku. Aku tidak sepakat dengan beberapa temanku yang menjadikan kaum-mu sebagai piala pencapaian atas sebuah tantangan pribadi. Yang kemudian setelah didapatkan bisa dipamerkan dihadapan teman-teman. Kamu tidak akan pernah aku perlakukan seperti itu. Karena menurutku, bertaruh, medapatkan hadiah lalu memamerkannya kepada teman-teman adalah kerjaannya anak kecil. Anak-anak yang masih ingusan. Tidak bertanggung jawab.

    Bagiku, diam untuk saat ini adalah cara terbaik yang bisa kulakukan. Tapi aku sadar, diam pun akan ada batasnya. Dan semoga jika saatnya nanti aku sudah berani untuk berbicara, itu dihadapan kedua orang tuamu. Dan ini risikonya, semoga aku tidak keduluan orang lain.


  5. Jangan pernah membenarkan asumsi pribadi. Terutama jika hal itu berkaitan dengan perasaan.

    Seringkali kita berasumsi terhadap perhatian berlebih seseorang kepada kita. Kita merasa ge-er. Berbunga. Tersipu. Bahkan terkadang sampai pad taraf senyum-senyum sendiri. Padahal mungkin sekali orang itu juga perhatian terhadap orang-orang lain di sekelilingnya. Kitanya saja yang mungkin ke-gedean rasa, lalu berasumsi dengan perkiraan kita sendiri.

    Masalah asumsi pribadi seperti ini mungkin terlihat remeh-temeh. Tapi jika kita menyadari bahwa ternyata apa yang kita asumsikan itu salah, akan terasa sangat menyakitkan. Terlebih jika kita sudah meyakininya sepenuh hati dan sangat yakin bahwa memang dia benar adanya menyimpan perasaan kepada kita. Padahal kenyataannya, justru sebaliknya. Tidak ada yang menyimpan perasaan, jatuh hati apalagi jatuh cinta kepada kita. Kitanya saja yang ternyata memang ke-gedean rasa.

    Terkadang, untuk hal-hal berbau perasaan seperti ini kita perlu kacamata pendapat orang lain. Guna meluruskan asumsi-asumsi kita yang cenderung memihak pada perkiraan yang kasat mata. Sedangkan oranglain tentu dapat melihat dengan lebih jernih, apa yang sebenarnya kita butuhkan untuk menyelesaikan masalah perasaan ini.

    Sekarang coba kita bayangkan. Jika saja seseorang sudah berasumsi dengan perasaannya, dia akan cenderung memikirkan 'seseorang' dalam asumsinya. Muncul-lah rasa ingin tahu. Rasa ingin lebih dekat. Akhirnya sampai pada taraf ingin 'memiliki'. Jika sudah sampai pada taraf ini, seringkali seseorang mulai bergerak dibawah alam sadarnya. Memikirkan. Bercerita. Bahkan melakukan hal apa saja untuk menarik perhatian 'seseorang' dalam asumsinya. Meskipun hal itu terlihat sangat norak sekali. Secara tidak sadar dia telah menjatuhkan harga dirinya sendiri. 

    Mungkin sekarang sudah saatnya kita merehabilitasi ulang kondisi hati kita. Mungkin ada yang perlu diperbaiki disana. Karena ketika kita bermain-main dengan asumsi, maka sesungguhnya kita sedang mempermainkan perasaan kita sendiri.